RSS

the Diary

05 Apr

Upacara pemakaman itu telah usai. Seorang gadis, Nararya Serrafina Putri, menemui Sang Pencipta di hari tepat sebulan setelah ulang tahunnya yang ke-23. Meninggalkan keluarga dan teman-temannya. Meninggalkan aku. Untuk selamanya.

Aku berjalan mengikuti rombongan berpakaian hitam meninggalkan makam. Terdiam sesaat, pikiranku melayang. Mengenang semua yang telah kami lalui bersama. Membayangkan selama sisa hidupku tak akan pernah lagi melihat senyumnya. Seandainya bisa menganggap semua ini hanya mimpi dan segera terbangun.

“Tam,” aku terkejut saat Dasha –kakak laki-laki Nara– tiba-tiba menepuk pundakku dan membuyarkan lamunanku. “Kayaknya kamu perlu baca ini,” ujarnya seraya menyerahkan sebuah buku dengan cover berbahan suede berwarna merah.

“Makasih ya,” jawabku. “Tapi ini apa?”

“Itu diary Nara.”

“Gak apa-apa nih aku baca?” tanyaku tak yakin.

“Nggak papa. Sebulan yang lalu, aku nggak sengaja denger Nara ngomong sendiri waktu lagi nulis. Dia bilang seandainya dia bisa membagi semua yang dia tulis ke kamu. Buat Nara, kamu itu temen yang paling deket.”

Aku terdiam.

“Ya udah Tam. Aku duluan ya,” kata Dasha seraya berjalan meninggalkanku.

Aku belum bergerak, memandangi buku itu. Bertanya-tanya apa isinya. Setahuku Nara selalu membagi apapun yang dialami dan dirasakannya padaku.

***

Seminggu berlalu sejak kepergian Nara. Aku masih belum berani membuka diary itu. Rasa penasaran berkecamuk di dalam diriku, bertentangan dengen keinginan untuk menghormatinya dengan tidak mengetahui rahasia yang tak dibaginya kepada siapapun.

Tapi akhirnya rasa penasaran itu menang. Perlahan aku membukanya dan mulai membaca halaman demi halaman.

Aku nggak pernah mengira akan sesakit ini melepasmu pergi.”- Nara -

Lagi-lagi kamu nggak bales message-ku. Menyebalkan!! Menyebalkaaann!!! Temen macam apa sih kamu??!! Huuhhh..!!!” – Nara -

Aku nggak pernah menyangka akan begini rasanya jauh dari kamu.” – Nara -

Suka nggak suka, sepertinya harus aku akui kalau aku sebenarnya menyukaimu. Menyayangimu. Lebih dari sekedar sahabat. Sayang sekarang kita jauh. Sudahlah. Lupakan saja.” – Nara -

Messenger, pesan singkat, dan telepon. Merekalah yang selalu mengisi hari-hariku. Membuatku merasakan kehadiranmu dalam kehidupanku, membuatku merasa dekat dengan dirimu. Setiap hari.

Tapi kebiasaanmu mengacuhkanku, tanpa menjawab pesan dan teleponku itu menyebalkan. Huhh!!

Hhmmm.. atau mungkin justru hal itu yang membuatku dari hari ke hari semakin penasaran. Hihihii… Entahlah.” – Nara -

Wow, nggak terasa sudah 3 bulan sejak kamu pergi ke tempat barumu. Kangen kamu.” – Nara -

Hari ini kamu kembali ke Jakarta. Waktu yang sangat singkat, hanya dua hari. Tapi senang rasanya ternyata kamu masih meluangkan waktu buat ketemu aku. Aku hanya ingin bilang, kamu memang sahabat terbaik.

Entah kenapa, saat menghabiskan waktu bersamamu, aku merasakan nyaman yang luar biasa. Bahkan aku lupa punya perasaan lebih kepadamu. Cerita-ceritamu yang aneh, kelakuanmu yang konyol dan sering kali menyebalkan, tingkahmu yang membuatku tertawa, semuanya. Semua yang ada dalam dirimu, membuat aku ingin selalu bersamamu.” – Nara -

Haduuhh.. Semakin hari perasaan ini semakin dalam saja. Semakin hari rasa kangen ini semakin sering muncul. Kenapa justru semua ini baru terasa saat kamu sudah jauh disana. Saat kita hanya bisa berkomunikasi dengan teknologi. Hhmmm.. berharap bisa mengulang masa-masa kegilaan saat kita bersama dulu” – Nara -

Telepon aku nggak diangkat. Lagi apa sih kamu?? I need you. Hari ini sangat menyebalkan. Aku butuh teman ngobrol Please pick up the phone. Pleasee..” – Nara -

Aku nggak tau apakah aku harus realistis atau tetap mempertahankan perasaan ini.” – Nara -

Semakin tak mudah karena kita memulai ini sebagai sebuah persahabatan. Terkadang aku penasaran bagaimana perasaanmu sebenarnya. Aku ingin mempertanyakannya. Tapi aku takut. Beneran takut. Takut apa yang sudah ada diantara kita berubah. Aku takut kamu jadi semakin jauh.

Aku nggak mau kehilangan kamu. Apapun sebabnya. Aku nggak mau perasaan ini mengubah apa yang ada sekarang menjadi buruk. Aku nggak mau merusak persahabatan yang indah ini.” – Nara -

God!! Again!! Aku dicuekin lagi hari ini. Hahaha..*menertawakan diri sendiri.

Apalagi sih?? Masih saja mengharapkan yang lebih dari dirimu. Owhh.. ingin mengingkarinya, menepisnya, tapi aku terlanjur menyayangimu. Dan mengharapkanmu. Fiufhh..” – Nara -

Info dari seorang teman : kamu merasa nyaman bersamaku. Bagimu, aku teman yang baik dan menyenangkan. Dan kamu pun menyukaiku. Whattt??!! Bagai petir di siang bolong, tapi langsung muncul pelangi. Kaget dan bahagia jadi satu!! Benarkah itu?? Sayang aku tidak mendengarnya langsung dari dirimu. Kapan?? Kapan aku bisa mendengar itu dari mulutmu? Apa mungkin??” – Nara -

Hari ini ngobrol panjang lebar. Besok cuek banget. Kemarin nggak jawab telepon dari aku. Besoknya lagi diem seharian. Besok besoknya lagi ngobrol seharian, cerita panjang lebar. Aku bingung mengartikan ini. Sebenernya info dari seorang teman itu bener nggak sih?

You’re so unpredictable. Kalau memang kamu suka aku, apa lagi sih yang kamu tunggu? Apa perhatian aku selama ini masih belum menunjukkan bagaimana perasaanku? Atau kamu punya alasan lain?” – Nara -

Ada lagi teman yang bilang kalau kamu suka aku. Jangan-jangan kamu juga dengar dari teman-teman kalau aku suka sama kamu. Persahabatan yang aneh. Setiap hari kita berkomunikasi –meski nggak jarang kamu cuekin aku, hehehe– dan berbagi semua cerita. Tapi tak sekalipun kita membahas soal perasaan, apalagi hubungan. Aku mendengarnya dari orang lain. Dan kau pun begitu. Aneh.” – Nara -

Aku ingin mengakhiri ini!! Semakin hari semakin menyakitkan saja. Menanti, berharap, aku capek. Tapi kalau ingin membuang perasaan ini, aku harus mengacuhkanmu. Menjauhimu. Dan itu artinya aku harus mengorbankan persahabatan ini. Aku nggak mau!!

Jadi aku harus bagaimana?? Aarrghh…!!!” – Nara -

Tenggorakanku tercekat, lidahku kelu, dan jantungku seolah berhenti berdetak. Belum seluruh bagian dari diary itu kubaca, tapi aku tak sanggup melanjutkannya.

Aku merasa sebagai orang paling bodoh di dunia. Perasaan yang selama ini ku tahan ternyata tak hanya menyiksaku, tetapi juga menyiksanya. Bahkan hingga akhir waktunya tiba.

Advertisement
 

About lina

i'm twenty one years old girl,, i'm a college student,, i'm a chocolate addict,, i'm me..
1 Comment

Posted by on April 5, 2011 in story

 

One Response to the Diary

  1. Vega

    June 20, 2011 at 7:57 pm

    uhuk..uhuk…hehehe good job sist :)

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.