Aku menatap diriku di cermin, mengedarkan pandangan ke seluruh bagian tubuhku tanpa melewatkan barang se-centi. Mulai dari rambut, kaos biru tua dengan aksen grafis berwarna putih di sudut kanan bawahnya, serta celana denim hitam kesayanganku. Aku memastikan sudah memakai ikat pinggang biru yang kubeli beberapa hari lalu di toko langgananku, serta jam tangan casio yang setia melekat di pergelangan kananku kemanapun aku pergi. Setelah memberi sentuhan terakhir pada rambutku, aku memakai jaket Levi’s putihku, dan aku yakin siap untuk berangkat.
Aku harus sempurna malam ini. Sahabat terbaikku seantero jagat berulang tahun hari ini. Tepatnya ulang tahun yang ke tujuh belas -angka yang dianggap spesial menuju kedewasaan-. Ia dan mamanya mengundangku makan malam. Papanya sedang bertugas di Bali, jadi malam ini kami akan menikmati makan malam bertiga.
Pukul tujuh tepat aku sampai di depan rumahnya. Lily –sahabat terbaikku- membukakan gerbang, dan aku memarkir mobilku di garasinya. Tampak Lily menyambutku dengan senyum khasnya -yang membuat ia terlihat semakin manis- saat aku turun dari terrano hitam dengan membawa kotak besar yang terbungkus rapi oleh kertas berwarna pink. Hiasan pita jepang di bagian atas membuatnya semakin menarik. Akupun menyerahkan kado itu pada Lily. “Met Ultah ya Ly..”
“Gila..!!! Gede banget!!” seru Lily. Rasa penasarannya untuk segera mengetahui apa isi kotak itu sangat besar. “Tengkyu banget ya! Boleh aku buka sekarang?”
Aku tersenyum. “Kok aku nggak disuruh masuk dulu??” tanyaku sambil tetap menyunggingkan senyum menyindir yang membuatnya makin penasaran pada kado itu.
Lily menggiringku masuk dan langsung menuju ruang makan. Piring, sendok-garpu, dan semua masakan asli buatan Tante Dian –mama Lily- sudah tertata rapi di atas meja makan. Tante Dian muncul dari balik dapur -menuju tempat aku dan Lily duduk- dengan sebuah black forest dan lilin angka tujuh belas di atasnya. Ia menyambutku dengan basa-basi menanyakan kabar, padahal terakhir kali kami bertemu adalah tadi pagi saat aku menjemput putrinya. Tante Dian segera bergabung bersama kami. Bertiga kami menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun sesaat sebelum Lily memejamkan mata dan meniup lilinnya. Aku tak tau pasti apa yang diharapkannya, dan aku hanya berharap bisa terus menjadi sahabat terbaiknya.
Kami mulai makan.
“Tante denger kamu mau kuliah di London, bener itu Raf?” tanya Tante Dian mengawali perbincangan di meja makan.
“Maunya papa mama sih gitu, Tan. Tapi kalo Rafa sebenernya pengen kuliah di sini aja,” jawabku setelah menyelesaikan kunyahan terakhirku dan menelannya.
“Itu kan kesempatan bagus bisa cari ilmu di negeri orang. Mumpung masih ada yang bisa ngebiayain, kenapa enggak? Sayang kan kalo disia-siain,” lanjut Tante Dian. “Tapi Tante nggak bisa ngebayangin saat kalian pisah nanti. Kalian kan udah sama-sama sejak masuk SD,” tambahnya seraya memandang padaku dan Lily secara bergantian.
“Yang pasti, Lily bakal kesepian Tan,” kataku sambil melirik ke arah Lily dan mengembangkan senyumku, berniat menggodanya.
Lily memonyongkan bibirnya lalu berkata “Sorry aja ya..!!!”
Kami bertiga pun terkekeh. Kami bertiga larut dalam perbincangan seusai makan malam –makan malam yang super lezat-, hingga jam dinding berdentang sepuluh kali.
Tante Dian menutup mulutnya yang tengah menguap dengan jari-jarinya yang tetap indah di usianya yang sudah tidak muda lagi. “Tante udah ngantuk! Oh iya Raf, gimana kalo kamu nginep di sini aja? Besok kan hari Minggu, nanti biar Tante yang telepon mama kamu. Pasti boleh.”
“Yang bener nih Tan??” tanyaku tak yakin. Tante Dian mengangguk dan senyum manis muncul saat ia melebarkan kedua bibirnya. “Makasih ya, Tan,” kataku kamudian.
Aku dan Lily masih melanjutkan obrolan sambil nonton DVD -yang baru dipinjamnya dari rental tadi siang sepulang sekolah- di ruang tengah. Hingga saat jarum panjang di angka satu sedangkan yang pendek di angka dua. Aku sendiri mulai merasa ngantuk. Kami pun akhirnya memutuskan tidur. Lily di kamarnya, dan aku di kamar tamu tentunya.
* * *
Sebulan setelah perayaan ulang tahun Lily, siang ini tepatnya, aku akan berangkat ke London. Mama, Papa, Bang Rico, dan Lily mengantarku sampai bandara. Aku memeluk mereka satu per satu, menahan agar air mataku tidak menetes, agar mereka tidak sedih melepasku. Aku mencium kedua pipi mama, tak bisa kubayangkan hidup tanpa wanita yang paling kucintai. Aku lalu mengecup kening Lily. Kecupan tanda perpisahan pada sahabat terbaikku, sahabat yang tak pernah berada jauh dariku.
Aku sudah duduk manis di dalam pesawat dan mulai menikmati perjalanan ini. Pikiranku melayang membayangkan bagaimana aku akan menjalani hari-hariku di London tanpa Mama, Papa, Bang Rico, dan yang pasti tanpa Lily.
* * *
Aku mulai terbiasa dengan kehidupan di London, namun tetap saja merasa ada yang kurang dari hidupku saat ini. Senyumnya, tawanya, dan semua rengekan maupun omelannya benar-benar membuatku tersiksa saat mengingatnya. Tersiksa karena aku terlalu merindukannya. Aku sudah sangat terbiasa dengan semua yang ada padanya. Lily, gadis manis yang selalu di sisiku. Hanya bunga-bunga lily di taman kota yang dapat kunikmati untuk mengobati rinduku padanya. Bunga yang indah, meski tak seindah sahabatku. Aku tak pernah benar-benar menyadarinya bahwa aku sangat menyayanginya –lebih dari sekedar sahabat atau menganggapnya sebagai adik–, lebih dari aku menyayangi diriku sendiri.
* * *
Setelah hampir setahun aku di London, aku pulang ke Jakarta. Hari ini -tepat di hari ulang tahun sahabat terbaikku-, aku mendatangi rumah Lily –berniat memberi surprise padanya-. Tante Dian menyambutku dengan sangat ramah, masih seramah saat setahun lalu aku terakhir bertemu dengannya.
“Rafa?? Kapan kamu sampai? Kok nggak ngasih kabar??”
“Kemarin sore, Tan. Iya nich, sengaja pengen kasih surprise buat Lily. Dia ada kan, Tan??”
Tante Dian terdiam. Raut wajahnya tiba-tiba berubah, senyum manisnya memudar. Segurat kesedihan terpancar dari wajah anggunnya. Dalam hati aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Raf, tante akan bawa kamu ke Lily sekarang. Ayo ikut Tante!!” ajaknya tanpa mengatakan hal lain yang bisa membuatku memahami keanehan ini. Ia berjalan menuju Honda jazz hitam yang terparkir di garasi, dan aku hanya bisa mengekor mengikuti langkahnya.
Tante Dian mengendarai mobilnya dalam diam. Tak sepatah katapun keluar dari bibir tipisnya. Ia bahkan tak mengacuhkan pertanyaan-pertanyaanku, tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi dan apakah Lily baik-baik saja.
Akhinya kami tiba di sebuah gedung yang besar, dan memasuki bangunan putih itu. Tante Dian berhenti tepat di depan kamar yang di atas pintunya tertulis angka 113. ia membuka pintu itu perlahan. Ya Tuhan!!! Betapa aku terkejut mendapati seorang gadis tengah berbaring lemah dengan Teddy Bear dalam dekapannya. Teddy Bear yang kuberikan setahun yang lalu.
Aku melangkah perlahan menghampirinya. Lily sedang tidur, dan terbangun saat aku membisikkan selamat ulang tahun di telinga kirinya.
”Rafa???” betapa terkejutnya ia hingga tak menyadari kalau pipinya mulai basah. Aku membantunya duduk bersandar. ”Ini beneran kamu kan??” kedua tangannya memegang pipiku. Ia masih tak yakin.
”Ya iyalah ini aku. Masa’ hantu..?” kataku tersenyum. ”Met ultah ya Lily,” aku memperlihatkan apa yang kubawa. Sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk lambang horoscope zodiaknya. Pisces. Aku lalu memakaikannya dan betapa ia semakin cantik dengan kalung itu. Sebenarnya bukan kalungnya yang cantik, tapi ia memang cantik. Kecantikannya yang selama ini tak pernah kuanggap. Tak pernah kuperhatikan.
”Makasih ya Raf.” Senyum itu, senyum yang selama ini kurindukan.
* * *
Yang ku tahu, ia mengidap leukimia. Aku telah membicarakan semuanya dengan adik papa -dia seorang dokter ahli- yang tinggal bersamaku di London. Semua pemeriksaan dan persiapan telah dilaksanakan. Prosedur yang harus dilalui semuanya beres. Meski tak ada yang setuju dengan ideku, aku tetap memaksa hingga mereka semua akhirnya menyerah. Transplantasi sumsum tulang belakang. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan Lily. Beruntung milikku cocok dengannya. Apapun resikonya, operasi itu harus tetap berlangsung. Karena aku pernah berjanji untuk selalu menjaganya.
Aku menggenggam erat tangangnya, dan membisikkan ”aku sayang banget sama kamu.” sesaat sebelum akhirnya aku tak tahu apa yang terjadi.
* * *
Aku berdiri di sudut ruangan, memandang apa yang sedang terjadi di ruangan itu. Gaduh, kalut, dan kesedihan. Mama menangis di pelukan papa saat seorang perawat menutupkan kain putih -yang telah menutup sebagian tubuhku- ke wajahku. Bahkan papa dan Bang Rico yang berusaha tetap tegar tak mampu membendung air matanya. Begitu pula dengan Tante Dian yang juga tak mampu menahan isakannya.
Sementara di sudut ruang yang lain, ia masih terbaring tak sadarkan diri. Aku tahu ia selamat. Ia akan baik-baik saja. Operasi itu memang telah memisahkanku dari ragaku. Tapi yang terpenting aku bisa menjaganya. Sebagian kecil dari tubuhku telah bersatu dengan dirinya. Memberinya sedikit harapan untuk melanjutkan jalannya. Untuk terakhir kalinya aku memperhatikan setiap lekuk wajahnya. ”Maafkan aku yang hanya mampu menjagamu sampai di sini.”
© Lina