kaLyn’s Blog











HUBUNGAN yang romantis antara manusia dan robot, kiranya tak akan lagi berlangsung di kisah-kisah sains fiksi saja. Para peneliti memperkirakan, hubungan manusia dan robot niscaya terjadi tahun 2050 mendatang.

Harap dicatat, hubungan dimaksud bukan melulu hubungan seks yang sifatnya mekanis.

“Melainkan hubungan saling mencinta dengan robot yang punya emosi, kepribadian, dan kesadaran. Yang bisa bicara, yang bisa bikin Anda tertawa, yang bisa katakan ‘saya cinta padamu’ dengan sepenuh hati,” kata David Levy kepada AFP dalam acara konferensi internasional di Universitas Maastricht di wilayah tenggara Belanda. Levy adalah penulis buku Love + sex with robots.

Robot dimaksud dilengkapi sensor dan kemampuan bicara elektronis yang membuatnya bersuara “enak didengar” ketika pasangannya membelai “zona erotik”-nya.

Masalah utama yang dihadapi kalangan ilmuwan untuk menciptakan robot semacam itu adalah, di kemampuan komunikasi. Sekadar membuat robot bicara saja, itu mudah. Masalahnya, bagaimana robot itu berbicara dengan berperasaan selayaknya bicara kepada kekasih.

“Yang diinginkan adalah robot yang bisa bicara tentang apa yang menjadi ketertarikanmu. Seorang rekan yang punya ketertarikan sama, yang bicara dengan cara yang menyenangkanmu, dan yang punya selera humor sejenis denganmu,” ungkap Levy.

Paradoks

Soal kemungkinan keberadaan robot semacam itu bukannya tanpa protes. Sarjana Inggris, Dylan Evans menunjukkan paradoks yang terdapat dalam hubungan dengan robot. Masalah krusial pertama adalah anggapan bahwa cinta itu tanpa syarat dan abadi.

“Robot tidak memilih. Robot juga tidak menolak. Itu membuat hubungan jadi sangat membosankan dan bisa membuat pasangan jadi sangat kejam ketika berhadapan dengan kekasihnya, si robot yang pasrah,” kata Evans.

Tentu saja, robot bisa diprogram untuk menolak. Akan tetapi, bukankah akan sangat sulit menjual robot semacam itu.

Peneliti lainnya menyebut ide itu terlalu berlebihan. Pasalnya, kecerdasan artifisial yang berhasil dibuat saat ini, baru setara dengan kemampuan anak berusia satu tahun.

Menghadapi kritikan itu, Levy tidak menyerah. Dia yakin semua itu bakal terjadi. (AFP/Rahim /”PR”)***

(mengkutip dari Pikiran Rakyat online..)



Leave a Reply

et cetera