Upacara pemakaman itu telah usai. Seorang gadis, Nararya Serrafina Putri, menemui Sang Pencipta di hari tepat sebulan setelah ulang tahunnya yang ke-23. Meninggalkan keluarga dan teman-temannya. Meninggalkan aku. Untuk selamanya.
Aku berjalan mengikuti rombongan berpakaian hitam meninggalkan makam. Terdiam sesaat, pikiranku melayang. Mengenang semua yang telah kami lalui bersama. Membayangkan selama sisa hidupku tak akan pernah lagi melihat senyumnya. Seandainya bisa menganggap semua ini hanya mimpi dan segera terbangun.
“Tam,” aku terkejut saat Dasha –kakak laki-laki Nara– tiba-tiba menepuk pundakku dan membuyarkan lamunanku. “Kayaknya kamu perlu baca ini,” ujarnya seraya menyerahkan sebuah buku dengan cover berbahan suede berwarna merah.
“Makasih ya,” jawabku. “Tapi ini apa?”
“Itu diary Nara.”
“Gak apa-apa nih aku baca?” tanyaku tak yakin.
“Nggak papa. Sebulan yang lalu, aku nggak sengaja denger Nara ngomong sendiri waktu lagi nulis. Dia bilang seandainya dia bisa membagi semua yang dia tulis ke kamu. Buat Nara, kamu itu temen yang paling deket.”
Aku terdiam.
“Ya udah Tam. Aku duluan ya,” kata Dasha seraya berjalan meninggalkanku.
Aku belum bergerak, memandangi buku itu. Bertanya-tanya apa isinya. Setahuku Nara selalu membagi apapun yang dialami dan dirasakannya padaku.
***
Seminggu berlalu sejak kepergian Nara. Aku masih belum berani membuka diary itu. Rasa penasaran berkecamuk di dalam diriku, bertentangan dengen keinginan untuk menghormatinya dengan tidak mengetahui rahasia yang tak dibaginya kepada siapapun.
Tapi akhirnya rasa penasaran itu menang. Perlahan aku membukanya dan mulai membaca halaman demi halaman.
“Aku nggak pernah mengira akan sesakit ini melepasmu pergi.”- Nara -


